TUJUAN HIDUP SEORANG MUSLIM
Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary
Setiap orang yang mendalami Al-Qur'an dan mempelajari Sunnah tentu
mengetahui bahwa puncak tujuan dan sasaran yang dilakukan orang Muslim
yang diwujudkan pada dirinya dan di antara manusia ialah ibadah kepada
Allah semata.
Tidak ada jalan untuk membebaskan ibadah ini dari setiap aib yang
mengotorinya kecuali dengan mengetahui benar-benar tauhidullah.
Da'i yang menyadari hal ini tentu akan menghadapi kesulitan yang besar
dalam mengaplikasikannya. Tetapi toh kesulitan ini tidak membuatnya
surut ke belakang. Sebab setiap saat dakwahnya menyerupai perkataan Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:
"Artinya : Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi, kemudian
yang paling menyerupai (mereka) lalu yang paling menyerupainya lagi."
[1]
Bagaimana tidak, sedang dia selalu meniti jalan beliau, menyerupai
sirah-nya dan mengikuti jalannya? Al-Amtsalu tsumma al-amtsalu adalah
orang-orang shalih yang mengikuti jalan para nabi dalam berdakwah keapda
Allah, menyeru kepada tauhidullah seperti yang mereka lakukan,
memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan menyingkirkan syirik. Mereka
mengahadapi gangguan dan cobaan seperti yang dihadapi para panutannya,
yaitu nabi-nabi.
Oleh karena itu banyak para da'i yang menjauhi jalan yang sulit dan
penuh rintangan ini. Sebab seoarang da'i yang meniti jalan itu akan
menghadapi ayah, ibu, saudara, rekan-rekan, orang-orang yang
dicintainya, dan bahkan dia harus menghadapi masyarakat yang merintangi,
memusuhi dan menyakitinya.
Lebih baik mereka menyingkir ke sisi-sisi Islam yang sudah mapan, yang
tidak dimusuhi orang yang beriman kepada Allah. Di dalam sisi-sisi ini
mereka tidak akan menghadapi kesulitan, kekerasan, ejekan, dan gangguan,
khususnya di berbagai masyarakat Islam. Biasanya mayoritas umat justru
mau memandang da'i seperti ini, menyanjung dan memuliakannya dan tidak
mengejek atau pun mengganggunya, kecuali jika mereka menentang para
penguasa dan mengancam kedudukan mereka. Kalau seperti ini keadaannya,
tentu para penguasa ini akan menumpas mereka dengan kekerasan,
sebagaiman menumpas partai politik yang hendak mengincar kursi
kekuasaannya. Sebab, para penguasa dalam masalah ini tidak bisa diajak
kompromi, baik mereka itu kerabat atau pun rekan, baik orang Muslim
maupun orang kafir.
Bagaimanapun juga kami merasa perlu mengatakan para da'i, bahwa meskipun
mereka tetap harus menyaringkan suaranya atas nama Islam, toh mereka
tetap harus mengasihi dirinya sendiri. Karena mereka keluar dari manhaj
Allah dan jalan-Nya yang lurus dan jelas, yang pernah dilalui para nabi
dan para pengikutnya dalam berdakwah kepada tauhidullah dan memurnikan
agama hanya bagi Allah semata. Apa pun usaha yang mereka lakukan untuk
kepentingan dakwah, toh mereka tetap harus memikirkan sarananya sebelum
tujuannya. Sebab berapa banyak sarana yang remeh justru membahayakan
tujuan yang hendak dicapai dan justru menjadi pertimbangan yang besar.
Bahkan banyak da'i yang memaksakan cara yang mereka ciptakan sendiri dan
tidak mau mengikuti manhaj para nabi dalam berdakwah kepada tauhidullah
di bawah slogan-slogan yang serba gemerlap, tapi akhirnya hanya
memperdayai orang-orang bodoh, sehingga mereka menganggapnya sebagai
manhaj para nabi.
Karena Islam mempunyai beberapa cabang dan pembagian, maka harus ada
penitikberatan pada masalah yang paling penting, lalu disusul dengan
yang penting lainnya. Pertama kali dakwah harus diprioritaskan pada
penataan akidah. Caranya menyuruh memurnikan ibadah bagi Allah semata
dan melarang menyekutukan sesuatu kepada-Nya. Kemudian perintah
mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, melaksanakan berbagai kewajiban
dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, seperti cara yang dilakukan
semua para nabi. Firman Allah.
"Artinya : Dan, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja) dan juahilah thaghut'."
[An-Nahl : 36]
"Artinya : Dan, Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu,
melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Ilah selain Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku." [Al-Anbiya' : 25]
Dalam sirah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan cara yang diterapkan
beliau terkandung keteladanan yang baik serta manhaj yang paling
sempurna. Hingga beberapa tahun beliau hanya menyeru manusia kepada
tauhid dan mencegah mereka dari syirik, sebelum menyuruh mendirikan
sholat, melaksanakan zakat, puasa, haji, dan sebelum melarang mereka
melakukan riba, zina, pencurian dan membunuh jiwa tanpa alasan yang
benar.
Jadi dasar yang paling pokok adalah mewujudkan peribadatan bagi Allah semata, sebagaimana firman-Nya.
"Artinya : Dan, AKu tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk menyembah-Ku." [Adz-Dzariat : 56]
Hal ini tidak bisa terjadi kecuali dengan mengenal tauhidullah, baik
secara ilmu maupun praktik, realitas sehari-hari maupun jihad.
Anda bisa melihat berapa banyak para da'i Muslim dan jama'ah-jama'ah
Islam yang menghabiskan umurnya dan menghabiskan energinya untuk
menegakkan hukum Islam atau menuntut berdirinya negara Islam. Mereka
tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, mereka lupa atau pura-pura lupa
bahwa tegaknya hukum Islam tidak akan terwujud dengan cara seperti itu.
Tujuan itu tidak akan terealisir kecuali dengan suatu manhaj yang
dilakukan secara perlahan-perlahan, memerlukan waktu yang panjang,
dilandaskan kepada kaidah yang jelas, harus dimulai dari penanaman
akidah dan menghidupkan pendidikan Islam serta menekankan masalah
akhlak. Jalan yang perlahan-lahan dan panjang ini merupakan jalan yang
paling dekat dan paling cepat yang bisa ditempuh. Sebab untuk bisa
mengaplikasikan tatanan Islam dan hukum syariat Allah bukan merupakan
tujuan yang bisa dilakukan secara spontan dan tergesa-gesa. Karena hal
ini tidak mungkin diwujudkan kecuali dengan merombak masyarakat, atau
adanya sekumpulan orang yang berkedudukan dan berbobot di tengah
kehidupan manusia secara umum yang siap memberikan pemahaman akidah
Islam yang benar, baru kemudian melangkah kepada pembentukan tatanan
Islam, meskipun harus menghabiskan waktu yang lama[2]
Kesimpulannya, menerapkan hukum-hukum syariat, menegakkan hudud,
mendirikan pemerintahan Islam, menjauhkan hal-hal yang diharamkan dan
melaksanakan hal-hal yang diwajibkan, semuanya merupakan penyempurna
tauhid dan penyertanya. Lalu bagaimana mungkin penyertanya mendapat
prioritas utama, sedangkan pangkalnya diabaikan?
Kami melihat sepak terjang berbagai jama'ah yang menyalahi manhaj para
rasul dalam berdakwah kepada Allah ini terjadi karena ketidaktahuan
mereka terhadap manhaj ini. Padahal orang yang bodoh tidak pantas
menjadi da'i. Sebab syarat terpenting dalam aktivitas dakwah adalah
ilmu, sebagaimana yang difirmankan Allah tentang Nabi-Nya.
"Artinya : Katakanlah: 'Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang
yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.
Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik."
[Yusuf : 108]
Jadi, keahlian seorang da'i yang paling penting adalah ilmu pengetahuan.
Kemudian kami melihat jama'ah-jama'ah yang menisbatkan diri kepada
dakwah ini saling berbeda-beda. Setiap jama'ah menciptakan pola yang
tidak sama dengan jama'ah lain dan meniti jalannya sendiri. Ini
merupakan akibat dari tindakan yang menyalahi manhaj Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Karena manhaj beliau hanya satu, tidak
terbagi-bagi dan tidak saling berselisihan. Firman Allah.
"Artinya : Katakanlah: 'Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku."
Orang-orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
berada di atas jalan yang satu ini dan tidak saling berselisih. Tapi
orang-orang yang tidak mengikuti beliau tentu saling berselisih. Firman
Allah.
"Artinya : Dan, bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang
lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang
lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya."
[Al-An'am : 153]
Jadi tauhid merupakan titik tolak dakwah kepada Allah dan tujuannya.
Tidak ada gunanya dakwah kepada Allah kecuali dengan tauhid ini,
meskipun ia ditempeli dengan merk Islam dan dinisbatkan kepadanya. Sebab
semua rasul, terutama dakwah penutup mereka, Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam dimulai dari tauhidullah dan sekaligus itu pula tujuan
akhirnya. Setiap rasul pasti mengatakan untuk pertama kalinya seperti
yang dijelaskan Allah.
"Artinya : Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah selain daripada-Nya." [Al-A'raaf :59 ][3]
Ini merupakan tujuan hidup orang Muslim yang paling tinggi, yang untuk
itulah dia menghabiskan umurnya sambil mengusahakannya di tengah
kehidupan manusia dan menguatkannya di antara mereka.
Khaliq yang telah menyediakan apa-apa yang menunjang kemaslahatan
kehidupan dunianya, Dia pula yang menetapkan syariat agama bagi mereka
dan menjaga kelangsungannya. Allah selalu menjaga Islam, karena Islam
itulah tujuan dari diciptakannya dunia bagi manusia, lalu mereka diberi
kewajiban untuk beribadah dan menguatkan tauhid, sebagaimana yang
tercermin dalam firman Allah Ta'ala.
[Disalin dari kitab Ad-Da'wah ilallah Bainat-tajammu'i-hizby
Wat-Ta'awunisy-Syar'y, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid
Al-Halabi Al-Atsary. Edisi Indonesia: Menggugat Keberadaan
Jama'ah-Jama'ah Islam. Penerjemah: Kathur Suhardi, Penerbit, Pustaka
Al-Kautsar. Cet. Pertama, September 1994; hal.38-44]
_________
FooteNote
[1]. Diriwayatkan At-Tirmidzy, hadits nomor 2400, Ibnu Majah, hadits
nomer 4023, Ahmad 1/172, dari Sa'id bin Abi Waqqash, dengan sanad hasan.
[2]. Limadza a'damuni?
[3]. Mukaddimah Manhajul Anbiya'
sumber: http://almanhaj.or.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar